Catatan dari Jakarta Drum Corps International 2025 (3–Habis)
Tidak semua orang datang ke arena untuk disorot lampu. Sebagian datang lebih awal, pulang paling akhir, dan hampir selalu berada di luar bingkai kamera. Mereka tidak berdiri di podium, tidak menerima medali, dan jarang disebut namanya ketika sorak penonton pecah. Tapi tanpa mereka, Jakarta Drum Corps International tidak pernah benar-benar dimulai.
Di balik megahnya final, ada kerja yang berlangsung jauh sebelum snare pertama dipukul. Rapat panjang membahas hal-hal yang terdengar remeh—alur masuk unit, jadwal latihan, listrik, waktu ganti floor—namun justru menentukan apakah sebuah event berjalan dengan wibawa atau runtuh perlahan. Penyelenggara Jakarta DCI bekerja di ruang yang nyaris tak romantis, tapi penuh tanggung jawab: memastikan mimpi ratusan performer punya panggung untuk bernapas.
Menyelenggarakan kompetisi marching arts bukan perkara sederhana. Ia bukan hanya soal menyatukan unit-unit dari berbagai daerah, tetapi juga menyatukan ekspektasi, ego, keterbatasan dana, dan realitas lapangan. Di situlah kerja panitia terasa paling nyata: menjadi penyeimbang antara idealisme dan kemungkinan. Tidak semua keputusan populer. Tapi hampir semua keputusan perlu diambil.
Sekretaris Pengurus Pusat Indonesian Drum Corps Association (IDCA), Heri Gunawan, mengatakan bahwa sejak awal, tujuan penyelenggaraan Jakarta Drum Corps International memang diletakkan pada satu kepentingan utama: peserta. Segala hal yang dibutuhkan agar unit bisa tampil dengan baik—bukan sekadar hadir, tapi benar-benar tampil—dipikirkan sejak tahap perencanaan.
Rasa nyaman bagi peserta tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun dari hal-hal yang sering dianggap sepele, tapi krusial. Dari sisi hospitality, peserta merasa tidak kehilangan arah. Sejak hari pertama, setiap unit ditemani oleh liaison officer (LO). Jadwal jelas, alur tertib, dan—yang paling penting—tempat latihan yang proper tersedia. Para peserta bisa fokus pada satu hal: tampil sebaik mungkin.
“Bisa dikatakan event ini sangat peserta-sentris,” kata Heri.
Sama Sunyi
Di sisi lain arena, para pelatih menjalani ritme yang berbeda, namun sama sunyinya. Mereka mengenal setiap detail anak-anak yang mereka bawa: siapa yang sedang cedera tapi memilih tetap bermain, siapa yang diam-diam kelelahan, siapa yang masih belajar percaya diri. Di balik formasi yang rapi dan musik yang terdengar utuh, ada jam-jam latihan panjang yang tidak pernah tercatat di lembar skor.
Bagi pelatih, kompetisi bukan sekadar tentang peringkat. Ia adalah ujian kesabaran. Tentang bagaimana menerjemahkan konsep besar ke tubuh-tubuh muda yang terus berubah. Tentang bagaimana menegur tanpa mematahkan semangat, dan memotivasi tanpa menjanjikan kemenangan. Banyak dari mereka pulang tanpa piala, tapi membawa pulang sesuatu yang lebih berat: tanggung jawab untuk kembali percaya pada proses.
Ada satu perasaan yang terus berulang ketika saya berbincang dengan para pelatih dan pegiat—perasaan yang jarang muncul di kompetisi sejenis sebelumnya. Setidaknya itu yang saya dapat dari perbincangan dengan Titok Irvantoro. Drill designer ini menilai apa yang terjadi di Jakarta DCI 2025, terutama di wilayah penjurian dalam kalimat sederhana: tidak ada yang marah. Tidak ada band yang memprotes hasil juri.
Saya sempat melihat Titok begitu serius berdiskusi dengan Steve Ulicny dan Ron Hardin- keduanya Juri Visual- di ruang diskusi sehari setelah prelims. Dari senyum yang mengembang setelah diskusi, saya menduga sepertinya Titok dan unitnya mendapat masukan penting menjelang malam final.
Sempat bertukar pesan melalui WA, Titok menulis bahwa komentar juri yang terdengar lewat voice record justru diterima sebagai proses belajar. Kritik disampaikan dengan apa adanya—bahkan terasa seperti “dikuliti”—namun tanpa menyakiti. Bukan karena kritiknya lunak, melainkan karena cara penyampaiannya jujur dan penuh niat membangun.
Titok kemudian memberi pesan lewat WA dengan kalimat “Everyone happy, even we knew we lose the battle“. Sebuah kalimat yang terdengar paradoksal, tapi nyata terasa di lapangan.
Tak Sempurna
Yang sering luput disadari, penyelenggara dan pelatih sesungguhnya berbagi ruang yang sama—ruang pengabdian. Mereka bekerja bukan demi sorotan, melainkan karena keyakinan bahwa marching arts layak dirawat. Bahwa anak-anak ini pantas mendapatkan panggung yang tertib, aman, dan bermakna. Bahwa kompetisi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk belajar.
Tentu, tak ada gading yang tak retak. Di beberapa titik, ketidaksempurnaan tetap terjadi—hal-hal kecil yang luput, keputusan yang bisa terasa kurang ideal, detail teknis yang belum sepenuhnya rapi. Namun yang membuatnya berbeda, kekurangan itu tidak disangkal atau ditutup-tutupi. Ia dicatat, dibicarakan, dan dijadikan bahan evaluasi untuk penyelenggaraan berikutnya. Dalam ekosistem yang sehat, kesalahan bukan aib, melainkan peta jalan menuju perbaikan.
Encore
Di Jakarta Drum Corps International 2025, keberhasilan event tidak hanya terlihat dari podium dan skor. Ia tampak dari bagaimana jadwal berjalan, bagaimana unit merasa dihargai, dan bagaimana para pelatih bisa fokus pada anak-anaknya tanpa harus khawatir hal-hal dasar. Keberhasilan itu sunyi, tapi nyata.
Saat arena akhirnya kosong dan dentum terakhir benar-benar menghilang, mereka masih ada. Mengemas, mengevaluasi, mencatat apa yang harus diperbaiki tahun depan. Tidak ada upacara penutupan untuk mereka. Tapi dari tangan-tangan inilah, edisi berikutnya akan lahir.
Dan mungkin, di situlah letak kemuliaannya. Bahwa di balik setiap dentum yang tidak pulang bersama piala, selalu ada orang-orang yang memilih untuk tinggal—menjaga agar dentum itu bisa kembali terdengar, tahun depan, di tempat yang sama atau mungkin di panggung yang lebih besar.***


Leave a Reply