Catatan dari Jakarta Drum Corps International 2025 (2)
Tidak semua kompetisi meninggalkan jejak setelah lampu arena dimatikan. Sebagian selesai bersamaan dengan pengumuman pemenang—angka dicatat, piala diangkat, lalu dilupakan. Tapi Jakarta Drum Corps International 2025 bergerak dengan cara berbeda. Ia tinggal lebih lama, bukan di podium, melainkan di kepala orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Malam final di Jakarta International Velodrome bukan sekadar penutup rangkaian lomba. Ia terasa seperti ruang evaluasi kolektif—tempat para performer, pelatih, juri, dan penonton secara tak sadar menimbang satu pertanyaan yang sama: sejauh apa marching arts Indonesia sudah melangkah, dan ke mana ia ingin pergi setelah ini?
Di lapangan, jawaban muncul dalam bentuk musik, formasi, dan keberanian mengambil risiko. Di balik meja juri, ia hadir sebagai catatan, diskusi singkat, dan angka-angka yang ditulis dengan pertimbangan panjang. Tiga korps di puncak klasemen malam itu tidak hanya menang secara skor. Mereka mewakili tiga cara berbeda untuk sampai ke sana.
Saya berdiri tak jauh dari meja juri, cukup dekat untuk melihat bagaimana angka tidak pernah lahir dari keheningan kosong. Ada desahan napas, kepala yang mengangguk pelan, dan jeda sebelum pena menyentuh kertas. Di sela-sela itu, potongan kalimat melayang—tentang visual yang berani tapi belum sepenuhnya matang, tentang brass yang hampir menyatu, tentang momen musik yang “hidup” meski belum sepenuhnya bersih.
Di sanalah saya menyadari satu hal: skor bukan vonis. Ia adalah catatan perjalanan. Para juri berbicara bukan seperti algojo kompetisi, melainkan seperti orang-orang yang ingin melihat sesuatu tumbuh lebih jauh. Beberapa komentar terdengar seperti harapan yang ditahan—bahwa apa yang mereka lihat malam itu bukan puncak, melainkan titik berangkat.
Pusat yang Menyebar
Ada satu fakta menarik yang tak tertulis di lembar skor, tapi terasa kuat jika dibaca perlahan: tiga besar drum corps (all class) tahun ini datang dari arah yang sering luput dari pusat sorotan. Makassar, Semarang, dan Cirebon—wilayah yang selama ini berada di luar bayang-bayang Jakarta sebagai pusat lama aktivitas—justru berdiri di puncak klasemen. Kemenangan DC Makassar, disusul Listya Dwijaswara dari Cirebon dan Gita Bahana Smepsa dari Semarang, terasa seperti pergeseran halus namun signifikan dalam peta kekuatan drum corps nasional.
Bagi saya, ini bukan sekadar kebetulan statistik. Keberhasilan mereka menandai sesuatu yang lebih besar: bahwa lanskap drum corps Indonesia kini sudah benar-benar terisi. Talenta tidak lagi terkonsentrasi di satu kota atau satu lingkaran tertentu. Dari timur hingga barat, unit-unit dengan kualitas kelas dunia mulai bermunculan—membawa bahasa visual, musikal, dan energi yang berakar dari wilayahnya masing-masing. Jika dulu kompetisi adalah soal siapa yang paling dekat dengan pusat, malam final ini membuktikan bahwa hari ini, pusat itu telah menyebar.
Baik, mari kita bahas tiga besar drum corps (All Class). Catatan: ini adalah pendapat pribadi saya sebagai penonton, bukan penilaian juri.
DC Makassar – Sulawesi Selatan
Menang di Semua Arah

Heroisme yang Dibangun Lewat Kontrol
DC Makassar memilih tema yang sarat beban sejarah: perjuangan Sultan Hasanuddin. Pilihan ini berisiko—narasi heroik mudah jatuh menjadi klise jika hanya diterjemahkan lewat keras dan cepat. Tapi Makassar mengambil jalan lain. Mereka tidak memekikkan kepahlawanan; mereka membangunnya.
Perjuangan dalam show ini terasa seperti proses panjang, bukan ledakan instan. Musik bergerak dengan disiplin, memberi ruang pada ketegangan yang tumbuh perlahan. Visualnya tidak berlebihan dalam simbol, namun cukup tegas untuk menandai konflik dan keteguhan. Ada kesan bahwa Makassar lebih tertarik menunjukkan ketahanan ketimbang kemenangan.
Yang membuat tema ini bekerja adalah konsistensi nada. Tidak ada bagian yang terasa keluar dari cerita. Heroisme Sultan Hasanuddin dihadirkan bukan sebagai figur mitologis, tetapi sebagai sikap: bertahan, terukur, dan tidak tergesa-gesa. Di situlah pertunjukan ini menemukan kekuatannya—dan mungkin, alasan mengapa ia terasa layak berada di puncak.
MB Listya Dwijaswara – Cirebon
Mendengar, Lalu Melompat

Alam, Perubahan, dan Keberanian untuk Bernapas Ulang
Listya Dwijaswara mengusung tema yang jauh lebih kontemporer: New Breath, sebuah refleksi tentang menjaga alam dan kebutuhan manusia untuk berhenti sejenak sebelum semuanya habis. Tema ini tidak berteriak tentang bencana, tapi mengajak mendengar—seperti napas itu sendiri.
Perubahan besar dari prelims ke finals terasa sejalan dengan pesan yang mereka bawa. Show ini seperti ikut “bernapas ulang”. Musiknya lebih cair, lebih lentur, dan memberi ruang pada dinamika yang terasa organik. Visualnya mengambil risiko dengan gestur dan warna yang tidak selalu aman, namun justru memperkuat kesan rapuh dan hidup.
Listya tidak menawarkan solusi, hanya kesadaran. Dan itu terasa jujur. Tema alam di sini bukan tempelan, melainkan lensa untuk membaca ulang bagaimana sebuah pertunjukan bisa berubah jika mau mendengar—pada juri, pada proses, dan pada dirinya sendiri. Peringkat kedua mereka terasa seperti perayaan atas keberanian untuk berubah, bukan sekadar keberhasilan teknis.
MB Gita Bahana Smepsa – Semarang
Tradisi, Disiplin, dan Ketahanan

Tradisi yang Berbicara Lewat Struktur
Smepsa memilih tema yang tampak sederhana namun menantang: sejarah alat komunikasi, khususnya telepon. Tema ini tidak menawarkan emosi besar secara instan. Ia menuntut kejelasan struktur—dan di situlah Smepsa bermain paling kuat.
Pertunjukan mereka terasa seperti perjalanan linear: dari komunikasi yang terbatas, menuju keterhubungan yang semakin kompleks. Musik disusun rapi, nyaris seperti percakapan yang berlangsung tahap demi tahap. Visualnya disiplin, tidak banyak distraksi, seolah ingin memastikan pesan tersampaikan tanpa gangguan.
Tema telepon di tangan Smepsa menjadi metafora tentang kesinambungan. Bahwa komunikasi—seperti marching arts—tidak selalu soal terobosan besar, tapi tentang menjaga koneksi agar tidak terputus. Dalam konteks kompetisi yang dipenuhi keberanian artistik, pendekatan ini terasa konservatif, namun justru memberi bobot: sebuah pengingat bahwa fondasi tetap penting.
Menariknya, ketiga tema ini—perjuangan sejarah, alam, dan komunikasi—seolah berbicara satu sama lain. Makassar bicara tentang bertahan dan tindakan terukur. Listya bicara tentang menjaga. Smepsa bicara tentang menyambung. Tiga gagasan berbeda, namun semuanya berakar pada satu kebutuhan yang sama: kontinuitas.
Epilog
Pada akhirnya, Jakarta Drum Corps International 2025 tidak menawarkan kesimpulan yang sederhana. Ia tidak menunjuk satu formula mutlak tentang bagaimana seharusnya drum corps Indonesia tampil di masa depan. Yang ia lakukan justru lebih jujur: memperlihatkan bahwa masa depan itu sedang dinegosiasikan, satu pertunjukan demi satu pertunjukan.
DC Makassar menang lewat kontrol dan kejelasan arah. Listia Damaswara melesat dengan keberanian untuk mendengar dan berubah. Gita Bahana Smepsa Semarang bertahan lewat disiplin dan tradisi yang terjaga. Di belakang mereka, korps-korps lain membentuk medan yang semakin padat—medan yang menuntut lebih dari sekadar rapi dan keras.
Dan memang, piala pada akhirnya akan kembali ke lemari, diberi label tahun, lalu menjadi benda diam. Tapi dentum yang lahir di Jakarta International Velodrome malam itu memilih jalan lain. Ia tidak ikut pulang bersama trofi, tidak berhenti di podium, dan tidak tunduk pada tabel peringkat.
Dentum itu akan muncul kembali di latihan-latihan sunyi, di keputusan-keputusan kecil yang mengubah arah sebuah show, dan suatu hari nanti, di panggung yang lebih jauh dari Jakarta. Dan ketika itu terjadi, kita mungkin akan ingat: semuanya berangkat dari sebuah malam ketika dentum memilih untuk tidak pulang bersama piala.
Dan mungkin di situlah arti sebenarnya dari event ini. Bukan sebagai lomba tahunan, melainkan sebagai penanda bahwa marching arts Indonesia sedang belajar berbicara lebih jujur—kepada juri, kepada penonton, dan terutama kepada dirinya sendiri.***


Leave a Reply