
Tentang waktu yang hilang, latihan yang tidak pernah benar-benar lengkap, dan keberanian untuk mengubah cara kita berlatih. Dalam dunia drum corps, waktu memiliki sifat yang berbeda dari sumber daya lainnya. Kita dapat membeli alat baru. Kita dapat mencetak ulang partitur. Kita dapat mengganti kostum, memperbaiki properti, bahkan mendatangkan pelatih baru ketika diperlukan. Tetapi kita tidak…

Visual dalam dunia drum corps tentu tidak bisa dilepaskan dari elemen-elemen yang membentuknya. Salah satunya adalah drill design, atau yang lebih sederhana kita kenal sebagai formasi. Formasi membuat sebuah pertunjukan marching band atau drum corps menjadi lebih atraktif. Bukan hanya karena bentuk yang terlihat dari atas, tetapi juga karena bagaimana satu bentuk berpindah ke bentuk…

Disclaimer: saya tidak bermaksud jadi sotoy mencoba menulis soal pertunjukan salah satu unit paling diperhitungkan di Drum Corps International 2026. Saya cuma sedang mencoba menceritakan apa yang saya rasakan setelah menontonnya. Beberapa hari terakhir Reels dan YouTube Shorts saya berseliweran dengan potongan-potongan Gravity & Grace. Satu video lewat, saya tonton. Beberapa jam kemudian muncul lagi…

Good design begins with honesty— George Zingali Jam di layar komputer menunjukkan pukul 01.07 WIB. Rumah sudah lama terlelap. Jalanan di luar jendela nyaris tak lagi bersuara. Hanya musik yang terus berputar di earphone, berulang-ulang, memenuhi keheningan ruang kerja kecil tempat saya duduk sendirian. Produksi pertama hampir rampung. Staging bekerja. Transisi mengalir. Kalau malam itu…

Agustus 2015. summer yang panas di Lucas Oil Stadium, Indianapolis, Indiana, Amerika Serikat. Ya, saya sedang berada di sana untuk meliput kiprah unit drum corps dari Provinsi Banten, Gita Surosowan Banten, berkompetisi pada event marching band,-yang menurut pendapat saya adalah,- yang terbesar dan terbaik di dunia: Drum Corps International (DCI). Sungguh minggu yang sibuk, sekaligus…

Catatan tentang band indie Indonesia yang memberi warna baru sepanjang 2025 Tidak semua band datang dengan sirene.Sebagian hanya muncul sebagai nama kecil di poster gigs, selipan algoritma di playlist Discover Weekly, atau rekomendasi mulut ke mulut yang terdengar seperti rahasia. Tahun 2025 di musik indie Indonesia diisi oleh nama-nama yang belum tentu viral, tapi terasa…

Catatan dari Jakarta Drum Corps International 2025 (3–Habis) Tidak semua orang datang ke arena untuk disorot lampu. Sebagian datang lebih awal, pulang paling akhir, dan hampir selalu berada di luar bingkai kamera. Mereka tidak berdiri di podium, tidak menerima medali, dan jarang disebut namanya ketika sorak penonton pecah. Tapi tanpa mereka, Jakarta Drum Corps International…

Catatan dari Jakarta Drum Corps International 2025 (2) Tidak semua kompetisi meninggalkan jejak setelah lampu arena dimatikan. Sebagian selesai bersamaan dengan pengumuman pemenang—angka dicatat, piala diangkat, lalu dilupakan. Tapi Jakarta Drum Corps International 2025 bergerak dengan cara berbeda. Ia tinggal lebih lama, bukan di podium, melainkan di kepala orang-orang yang terlibat di dalamnya. Malam final di…

Catatan dari Jakarta Drum Corps International 2025 (1) Di Jakarta International Velodrome, 21 Desember 2025, malam itu tidak benar-benar sunyi. Bahkan ketika tak ada satu pun korps yang tampil, udara masih bergetar oleh sisa dentum snare dan gema brass yang tertinggal di dinding arena. Finals drum corps baru saja usai. Para panitia sibuk menyiapkan upacara…

“Sedia Aku Sebelum Hujan” terdengar seperti payung yang dibuka terlalu cepat—bukan karena lebay, tapi karena kita semua tahu: langit Jakarta jarang benar-benar cerah. Ada jenis lagu yang tidak memaksa kamu menangis, tapi membuat kamu mengerti kenapa orang lain bisa menangis. “Sedia Aku Sebelum Hujan” dari IDGITAF termasuk jenis itu: sebuah balada yang berjalan pelan, nyaris…