Visual dalam dunia drum corps tentu tidak bisa dilepaskan dari elemen-elemen yang membentuknya. Salah satunya adalah drill design, atau yang lebih sederhana kita kenal sebagai formasi.
Formasi membuat sebuah pertunjukan marching band atau drum corps menjadi lebih atraktif. Bukan hanya karena bentuk yang terlihat dari atas, tetapi juga karena bagaimana satu bentuk berpindah ke bentuk lainnya. Lingkaran menjadi garis. Garis pecah menjadi beberapa kelompok. Pemain menyebar, bertemu, kemudian kembali membentuk sesuatu yang baru.
Semua itu terlihat indah ketika dimainkan di lapangan.
Tetapi di balik bentuk-bentuk tersebut ada pekerjaan yang tidak sederhana.
Drill bukan sekadar membuat formasi yang terlihat keren.
Seorang drill designer harus memikirkan banyak hal: tema pertunjukan, hubungan antara visual dan musik, staging, timing, transisi, hingga bagaimana setiap pemain bergerak dari satu titik ke titik lainnya.
Dan ada satu hal yang sering luput dari perhatian penonton: listening zone.
Sebuah formasi mungkin terlihat sangat indah dari atas. Tetapi kalau perpindahan pemain membuat mereka terlalu jauh dari sumber suara atau menyebabkan balance ensemble terganggu, maka visual tersebut bisa menjadi persoalan musikal.
Jadi, seorang drill designer sebenarnya tidak hanya bekerja dengan bentuk.
Ia bekerja dengan musik, ruang, waktu, dan manusia.

Ketika Drill Masih Dibuat dengan Kancing Baju
Hari ini kita mungkin sudah terbiasa melihat seorang drill designer bekerja di depan komputer dengan software khusus. Tinggal klik, drag, pindahkan titik, kemudian bentuk formasi bisa berubah dalam hitungan detik.
Tetapi prosesnya tidak selalu seperti itu.
Teman-teman DCMagz tahu bahwa pada masa lalu, drill designer bisa bekerja dengan cara yang jauh lebih sederhana.
Menggambar di atas kertas milimeter blok, misalnya.
Bahkan ada cara yang mungkin terdengar agak lucu bagi generasi sekarang.
Kancing baju.
Iya, kancing baju. Anda tidak salah baca.
Kancing dengan berbagai warna disusun di atas kertas untuk merepresentasikan pemain di lapangan. Setiap warna atau kancing mewakili seorang performer. Kemudian kancing-kancing tersebut digeser, dipindahkan, dan disusun menjadi formasi yang dianggap sesuai dengan kebutuhan show.
Sederhana?
Mungkin.
Tetapi tentu saja tidak mudah.
Bayangkan harus mengatur puluhan bahkan ratusan “kancing” untuk menghasilkan sebuah formasi, kemudian menghitung bagaimana semuanya berpindah dari satu titik ke titik berikutnya.
Belum lagi kalau setelah semuanya selesai, ternyata ada satu bagian yang tidak pas.
Maka kancing-kancing itu harus digeser lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Dari situlah kita bisa melihat betapa panjangnya perjalanan teknologi dalam dunia drill design.
Dari Kertas ke Dunia Digital
Seiring berkembangnya teknologi, pekerjaan drill designer mengalami perubahan yang cukup drastis.
Software membuat proses perancangan menjadi jauh lebih mudah dan fleksibel.
Designer sekarang dapat merancang formasi, mengatur titik pemain, membuat transisi, bahkan melihat simulasi pertunjukan dalam bentuk yang semakin mendekati kondisi sebenarnya.
Property dapat divisualisasikan.
Kostum dapat diperhitungkan.
Koreografi bisa diproyeksikan dalam lingkungan tiga dimensi.
Semua itu membantu designer membayangkan apa yang ingin dicapai sebelum para pemain benar-benar masuk ke lapangan.
Teknologi, pada akhirnya, memberikan satu hal yang sangat berharga:
kemampuan untuk melihat gagasan sebelum gagasan tersebut menjadi kenyataan.
Tetapi apakah teknologi itu murah?
Jawabannya relatif.
Motor untuk anak SD mungkin terasa mahal.
Tetapi bagi seseorang yang setiap hari membutuhkan motor untuk bekerja, harga motor tersebut bisa menjadi sesuatu yang sangat masuk akal.
Tergantung motornya juga, sih. LOL.
Begitu pula dengan software.
Bagi orang yang tidak membutuhkan, mungkin terlihat mahal.
Tetapi bagi seorang drill designer yang menggunakannya sebagai bagian dari pekerjaan, software tersebut bukan sekadar pengeluaran.
Ia adalah investasi jangka panjang.
Namun, kita tidak akan membahas harga software atau membandingkan satu aplikasi dengan aplikasi lainnya.
Karena yang lebih menarik adalah melihat bagaimana perkembangan teknologi tersebut kemudian memengaruhi hasil akhir sebuah karya.
Dari Ide Designer ke Lapangan
Sebuah drill sebenarnya adalah sebuah karya yang melalui proses panjang.
Semuanya dimulai dari ide.
Designer mengamati tema pertunjukan, memahami musik, memikirkan konsep visual, kemudian mulai menerjemahkannya ke dalam bentuk-bentuk di lapangan.
Setelah itu, ide tersebut dituangkan melalui software dan kemudian diekspor menjadi chart atau formasi yang akan digunakan oleh pemain.
Di sinilah sebuah karya yang tadinya berada di kepala designer akhirnya harus diterjemahkan oleh manusia di lapangan.
Dan di titik inilah persoalan baru muncul.
Tidak semua pemain membaca sebuah drill dengan cara yang sama.
Bagi designer, sebuah garis di chart mungkin terlihat sangat jelas.
Bagi pemain, belum tentu.
Seorang pemain harus memahami dari mana ia berangkat, ke mana ia harus pergi, berapa banyak langkah yang harus ditempuh, kapan harus bergerak, dan di titik mana ia harus berhenti.
Semakin rumit sebuah show, semakin kompleks pula proses menerjemahkan chart menjadi gerakan nyata.
Karena itu, tidak jarang bagian yang terlihat sederhana di atas kertas justru membutuhkan waktu cukup panjang untuk dipahami pemain.
Ketika UDB Datang Membantu

Di sinilah teknologi kembali memainkan perannya.
Salah satu aplikasi yang saat ini membantu pemain memahami drill dengan lebih mudah adalah Ultimate Drill Book (UDB).
Alih-alih hanya melihat chart sebagai gambar dua dimensi, pemain dapat menggunakan UDB untuk mempelajari bagian yang memang ingin mereka latih.
Pemain bisa fokus pada bagian tertentu, melihat perpindahan dari satu titik ke titik berikutnya, dan mempelajari gerakan secara lebih terstruktur.
Ini menjadi penting terutama ketika sebuah show memiliki drill yang kompleks.
Misalnya, seorang pemain harus bergerak total 16 langkah dari satu titik ke titik berikutnya.
Secara teori, angka 16 tentu bukan persoalan besar.
Tetapi dalam praktik di lapangan, pemain tidak hanya membutuhkan angka total tersebut. Ia perlu tahu bagaimana perjalanan itu dibagi.
Empat langkah pertama.
Empat langkah berikutnya.
Empat langkah berikutnya lagi.
Kemudian empat langkah terakhir.
4–4–4–4.
Dengan pembagian seperti itu, pemain memiliki referensi yang lebih jelas mengenai perjalanan mereka dari satu titik ke titik lainnya.
Tidak perlu lagi mengandalkan pengukuran manual secara berulang-ulang untuk sekadar memastikan apakah jaraknya sudah tepat.
Bagi pemain, hal seperti ini mungkin terlihat sederhana.
Tetapi justru hal-hal sederhana itulah yang bisa membuat sebuah proses latihan menjadi lebih efektif.
Teknologi Tidak Menggantikan Designer
Namun ada satu hal yang perlu digarisbawahi.
UDB tidak menggantikan pekerjaan seorang drill designer.
Software drill design juga tidak menggantikan kreativitas manusia.
Teknologi hanyalah alat.
Ide tetap datang dari manusia.
Designer tetap harus memahami musik, tema, visual, staging, kemampuan pemain, serta berbagai aspek lain yang menentukan apakah sebuah show akan bekerja atau tidak.
Demikian juga UDB.
Aplikasi tersebut tidak menciptakan karya drill.
Ia membantu menerjemahkan karya tersebut kepada pemain.
Ini mungkin merupakan bagian paling menarik dari perkembangan teknologi dalam marching arts.
Dulu, persoalannya adalah bagaimana membuat sebuah drill.
Kemudian teknologi membantu designer membuatnya dengan lebih cepat dan kompleks.
Sekarang persoalannya berkembang menjadi bagaimana memastikan karya yang sudah dibuat tersebut dapat dipahami dan dijalankan oleh seluruh pemain dengan presisi.
Teknologi kemudian hadir di antara designer dan performer.
Bukan untuk menggantikan salah satunya, tetapi untuk membuat komunikasi di antara keduanya menjadi lebih efektif.
Dari Kancing Baju ke Layar Smartphone
Kalau dipikir-pikir, perjalanan ini cukup luar biasa.
Dari kancing baju yang digeser-geser di atas kertas.
Kemudian berkembang menjadi gambar manual di kertas milimeter blok.
Lalu masuk ke komputer dan software drill design.
Dan sekarang seorang pemain bisa mempelajari perjalanan drill melalui perangkat digital yang ada di tangannya.
Semua itu terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Yang berubah bukan hanya alatnya.
Cara manusia memahami sebuah karya juga ikut berubah.
Hari ini kita hidup sangat berdampingan dengan teknologi. Hampir semua pekerjaan memiliki cara untuk menjadi lebih cepat, lebih terukur, dan lebih mudah dipahami dengan bantuan teknologi.
Dunia marching arts pun tidak berada di luar perubahan tersebut.
Tetapi pada akhirnya, secanggih apa pun teknologinya, sebuah show tetap membutuhkan manusia.
Designer yang punya visi.
Musisi yang punya musikalitas.
Performer yang mau berlatih.
Dan sebuah tim yang mampu menerjemahkan gagasan menjadi pertunjukan.
Teknologi hanya membantu semua itu berjalan lebih baik.
Mungkin itu sebabnya perjalanan dari kancing baju menuju UDB bukan sekadar cerita tentang perubahan alat.
Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah karya seni terus mencari cara baru untuk diwujudkan.
Karena pada akhirnya, sebuah drill bukan hanya tentang titik-titik yang bergerak di atas lapangan.
Di balik setiap titik ada manusia.
Dan di balik setiap perpindahan ada sebuah gagasan yang sedang berusaha diwujudkan.***


Leave a Reply