Disclaimer: saya tidak bermaksud jadi sotoy mencoba menulis soal pertunjukan salah satu unit paling diperhitungkan di Drum Corps International 2026. Saya cuma sedang mencoba menceritakan apa yang saya rasakan setelah menontonnya.
Beberapa hari terakhir Reels dan YouTube Shorts saya berseliweran dengan potongan-potongan Gravity & Grace. Satu video lewat, saya tonton. Beberapa jam kemudian muncul lagi potongan yang lain. Brass, guard, drill, entah bagian mana, tetapi selalu Bluecoats. Sampai akhirnya rasa penasaran muncul juga: sebenarnya full show-nya seperti apa?
Kemudian saya masuk Reddit. Di sana percakapannya lebih ramai lagi. Orang-orang tidak hanya membicarakan siapa yang menjadi juara DCI 2026, tetapi juga angka yang diperoleh Bluecoats di Finals: 99,100. Angka itu membuat banyak orang membicarakan posisi show ini dalam sejarah DCI, membandingkannya dengan skor-skor tertinggi yang pernah diperoleh corps lain, dan tentu saja mulai muncul diskusi klasik: apakah ini salah satu show terbaik Bluecoats, apakah desainnya memang sehebat itu, dan apa sebenarnya yang membuat para juri memberikan angka setinggi itu.
Akhirnya saya mencari full show-nya di YouTube. Saya menemukan satu video yang nanti akan saya pasang link-nya di artikel ini. Semoga saja dia tidak kena takedown by DCI. Hehehe.
Saya ingin pembaca dcmagz bisa menontonnya juga, karena menurut saya tulisan tentang sebuah pertunjukan marching band akan selalu terasa kurang kalau pembacanya tidak diberi kesempatan melihat pertunjukannya sendiri.
Tapi… saya juga tahu sejak awal bahwa saya tidak mungkin mendapatkan pengalaman yang sama seperti ketika menonton Bluecoats 2017. Saat itu mereka memainkan Jagged Line, dan saya menontonnya secara langsung. Sampai sekarang, terutama encore-nya, Jagged Line masih menjadi sesuatu yang agak menghantui saya, tentu saja in a good way. Ada pengalaman yang sampai sekarang sulit saya jelaskan. Mata dan telinga saya seperti berada di posisi yang benar-benar terkoneksi; apa yang saya lihat di lapangan bertemu dengan apa yang saya dengar dan entah bagaimana semuanya menghasilkan sebuah harmoni yang kemudian memberi efek hangat di hati.
Komposisi Psychopomp milik Thank You Scientist bergema, menjadikan encore Jagged Line begitu grand sekaligus funky. Saya masih ingat momen itu. Sesuatu membuat saya melakukan standing ovation, bertepuk tangan, berteriak, “Blooo!!!”, dan meneteskan air mata. Kurang ingat betul juga susunan kejadiannya, menangis dulu atau standing ovation dulu…
Nah, saya bukan pelatih, bukan juri, bukan ahli musik, dan bukan pula orang yang mempunyai kemampuan untuk membedah sebuah pertunjukan dari sisi teknis secara mendalam. Jadi pada saat itu saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada saya.
Beberapa tahun kemudian saya baru mengerti bahwa pengalaman semacam itu dalam dunia drum corps mempunyai sebuah nama: General Effect. Sederhananya, mungkin ini adalah ketika apa yang kita lihat dan dengar dari sebuah pertunjukan kemudian menghasilkan sesuatu di dalam diri kita sebagai penonton. Ada unsur teknisnya tentu saja, ada cara musik, visual, gerakan, cerita, dan berbagai elemen lain bekerja bersama, tetapi pada akhirnya semua itu harus menghasilkan sebuah pengalaman.
Karena pengalaman 2017 itulah saya tidak berharap terlalu banyak ketika menekan tombol play untuk Gravity & Grace. Bagaimanapun saya menontonnya melalui layar komputer. Tidak ada Lucas Oil Stadium, tidak ada ribuan orang yang mengelilingi saya, tidak ada suara brass yang datang langsung dari lapangan, tidak ada bass drum yang bisa terasa sampai ke dada, dan tidak ada energi sebuah pertunjukan live yang menurut saya memang tidak pernah benar-benar bisa dipindahkan utuh ke YouTube. Jadi saya tahu, apa pun yang terjadi, pengalaman ini akan berbeda.
Dan memang berbeda. Tetapi setelah beberapa menit, saya mulai merasakan sesuatu yang aneh.
Saya tidak langsung berpikir tentang skor. Saya juga tidak langsung berpikir, “Oh, pantas mereka dapat 99,100.” Saya hanya menonton. Saya melihat corps bergerak, melihat formasi berubah, melihat guard masuk dan keluar dari gambar, mendengar brass dan percussion membangun energi. Tetapi perlahan muncul sebuah sensasi yang sulit saya jelaskan dengan bahasa teknis. Rasanya seperti tubuh saya sedang ditancapkan ke bumi, sementara pada saat yang sama ada sesuatu yang membuat saya bergerak dengan ringan.
Saya tahu ini terdengar agak absurd, tetapi entah kenapa gambaran yang muncul di kepala saya justru bukan stadion, bukan kota Indianapolis, bukan lapangan football Amerika. Saya seperti sedang melewati hamparan sawah hijau dengan pegunungan yang cantik di belakangnya. Kaki saya tetap berada di tanah, tetapi tubuh saya terasa ringan, seperti sedang bergerak melewati pemandangan itu. Ada berat dan ada ringan dalam waktu yang hampir bersamaan.
Kemudian saya berpikir: oh, mungkin ini yang dimaksud Gravity & Grace.
Saya tidak tahu apakah itu memang maksud desainer Bluecoats. Bisa jadi sama sekali bukan. Mungkin saya terlalu jauh menginterpretasikan sesuatu yang sebenarnya jauh lebih sederhana. Tetapi saya kira di situlah menariknya sebuah pertunjukan seni. Setelah dibuat dan dipentaskan, ia tidak lagi sepenuhnya menjadi milik pembuatnya. Ia menjadi milik orang yang menontonnya dan membawa pulang pengalaman masing-masing.
Dan Gravity & Grace memang menarik saya ke wilayah itu. Judulnya tidak sekadar menjadi nama show. Setelah melihat beberapa kali, saya mulai memperhatikan bagaimana gagasan tentang berat dan ringan itu muncul dalam gerakan corps. Ada bagian ketika semacam tabung meluncur dari atas ke bawah sebuah platform berwarna oranye—ya, itu gravitasi. Saat seorang pemain trumpet turun dari bentuk platform yang sama, ya, itu gravitasi. Lalu saat ada formasi hornline yang berbaris horizontal bergerak seamless menjadi formasi square dan menjadi bentuk paling tegas di antara formasi lain yang membentuk garis bergelombang… yeah, itu keanggunan. Grace.
Saya kemudian membaca beberapa percakapan di Reddit dan menemukan bahwa penonton lain juga menangkap berbagai simbol yang kurang lebih berhubungan dengan gagasan tersebut. Ada yang melihat gerakan hornline sebagai sebuah massa atau bola yang bergerak turun, ada yang membaca hubungan antarformasi sebagai sesuatu yang saling menarik.
Kemudian datang babak ballad, di mana mereka memainkan mashup Familiarity dari Punch Brothers dan God Only Knows milik The Beach Boys. Saya kira di sinilah show ini menjadi sangat manusiawi. Setelah sebelumnya kita dibawa ke sebuah dunia yang terasa abstrak, penuh gerakan dan energi, ballad itu memberikan sesuatu yang sangat berbeda. Ada kehangatan di dalamnya, ada nostalgia, dan ada sesuatu yang membuat pertunjukan ini tidak lagi terasa seperti demonstrasi desain marching band. Saya tidak sedang berpikir tentang drill pada saat itu. Saya hanya menikmati musiknya.
Dan mungkin di situlah kata grace bekerja paling kuat bagi saya. Kalau gravity adalah sesuatu yang membuat kita tetap berada di bumi, grace mungkin adalah kemampuan kita untuk tetap bergerak meskipun hidup selalu mempunyai sesuatu yang menarik kita ke bawah. Saya tidak tahu apakah itu terlalu jauh. Tetapi ketika musik itu dimainkan, saya merasa Bluecoats memberikan ruang bagi penonton untuk bernapas setelah sebelumnya diajak merasakan beratnya sesuatu.
Bluecoats memang tidak memenangkan semua caption. Carolina Crown bahkan memenangkan Brass. Tetapi Bluecoats memenangkan beberapa bagian yang sangat menentukan pengalaman keseluruhan: General Effect, Visual, Guard dan Percussion. Pada akhirnya mereka mendapatkan 99,100, sementara Blue Devils berada di 97,500 dan Crown di 97,038. Jadi kalau pertanyaannya adalah mengapa Bluecoats menjadi juara, jawabannya menurut saya bukan karena mereka mempunyai satu bagian yang paling hebat. Mereka menang karena hampir semua bagian dari pertunjukan itu seperti mempunyai alasan untuk berada di sana.
Itulah yang saya kira membedakan Gravity & Grace dari sekadar show yang bagus. Kita sering melihat sebuah pertunjukan marching band kemudian pulang membawa satu atau dua hal: brass-nya gila, percussion-nya keren, drill-nya rumit, guard-nya luar biasa. Tetapi pada show yang benar-benar berhasil, semua hal itu seperti menghilang sebagai bagian yang terpisah. Yang tersisa adalah pengalaman secara keseluruhan.
Dan mungkin itulah General Effect. Bukan sekadar membuat penonton berkata, “Wow.” Tetapi membuat mata, telinga, dan perasaan kita berada di tempat yang sama untuk beberapa menit. Saya mengalami itu dengan Jagged Line pada 2017, ketika saya berada di stadion dan benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Saya mengalami sesuatu yang lebih kecil, tentu saja, ketika menonton Gravity & Grace melalui YouTube. Efeknya tidak sedahsyat pengalaman langsung itu, tetapi sensasinya ada. Tubuh saya tetap berada di depan komputer, tetapi entah bagaimana saya merasa seperti sedang berada di tempat lain.
Mungkin karena Gravity & Grace memang tentang dua hal yang pada dasarnya bertolak belakang tetapi justru membuat kehidupan menjadi utuh. Kita membutuhkan gravitasi untuk tetap berpijak. Tetapi kita juga membutuhkan sesuatu yang membuat kita bisa bergerak, melayang, dan sesekali merasa ringan. Mungkin itu yang dilakukan Bluecoats di lapangan tahun ini.
Lalu layar komputer menyajikan warna hitam, tanda video sudah selesai diputar. Setelah agak lama terpaku, saya klik tombol “Replay” di layar komputer…***


Leave a Reply