Dentum Setelah Final

DSC01985

Catatan dari Jakarta Drum Corps International 2025 (1)

Di Jakarta International Velodrome, 21 Desember 2025, malam itu tidak benar-benar sunyi. Bahkan ketika tak ada satu pun korps yang tampil, udara masih bergetar oleh sisa dentum snare dan gema brass yang tertinggal di dinding arena. Finals drum corps baru saja usai. Para panitia sibuk menyiapkan upacara pengumuman pemenang. Di sudut lain, para juri memastikan angka-angka terakhir di lembar penilaian mereka.

Semua orang tenggelam dalam keheningan masing-masing—seperti cuaca setelah badai: tenang, nyaris zen. Sebuah jeda singkat sebelum badai berikutnya datang: pengumuman pemenang Jakarta Drum Corps International 2025.

Namun, sebelum semua itu, kelas drum corps di Jakarta Drum Corps International bukan sekadar soal siapa paling bersih secara teknik atau siapa yang pulang membawa piala. Ia adalah ruang pertemuan antara ambisi, kelelahan, dan harapan—semuanya berdetak dalam tempo yang sama.

Saat nada terakhir ditiupkan Drum Corps Makassar, tribun meledak oleh sorak penonton. Di lapangan, para performer bertaruh dengan sisa napas terakhir. Di kepala semua orang, analisa berputar tanpa henti: analisa penonton, analisa pelatih, analisa juri, bahkan analisa mereka yang baru pertama kali menyaksikan sebuah marching show band.

Setiap analisa lalu menjelma percakapan dan cerita. Tapi cerita yang paling jernih justru sering tak terdengar dari mikrofon announcer. Ia datang dari suara yang lebih pelan: obrolan para juri, catatan kecil yang tak pernah tercetak di lembar hasil, komentar yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang cukup dekat—dan cukup mau—untuk mendengarkan.

Dalam satu kesempatan, Adam Sage, juri color guard, berkata kepada saya bahwa band yang menggunakan harpa—ia merujuk pada MB Listya Dwijaswara dari Cirebon—telah mengubah hampir seluruh pertunjukannya dan tampil jauh lebih baik dibandingkan saat prelims.

“They almost changed the whole show. They became much, much better. They listened to what the judges said. I gave them number two. I think Ron did just like I did,” katanya.

Ron Hardin, yang berdiri di samping Adam, mengangguk setuju.

“Yes, it’s important to hear what judges said at prelims. Overall, they are all getting better.”

Sebuah percakapan yang membanggakan—untuk saya, dan tentu untuk siapa pun yang mencintai aktivitas ini di Indonesia.

Bagi para juri, beberapa show yang mereka nilai malam itu bahkan sudah menyentuh level Band of America (BOA), salah satu kompetisi besar sebelum Drum Corps International. Ron Hardin secara khusus menyebut Drum Corps Makassar sebagai unit yang “akan banyak berbicara” jika tampil di BOA.

Pengakuan seperti itu bukan perkara sepele, terlebih datang dari Ron Hardin dan Adam Sage—dua sosok yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia dan melihat langsung seperti apa kelas pertunjukan yang bisa ditampilkan anak-anak negeri ini.

Nada serupa juga datang dari Dylan Toombs, pelatih brass The Bluecoats. Ia menyebut band-band yang ia saksikan sudah memiliki kelas tersendiri. Namun Toombs juga mengingatkan satu hal mendasar: produksi sound harus selalu menjadi perhatian utama para pelatih brass.

“But still, they are very good,” ujarnya, tanpa ragu.

Secara visual, para juri dari Amerika tampaknya sepakat: penggunaan ornamen dan instrumen berbasis kearifan lokal telah menempatkan band Indonesia di ruang yang berbeda. Sebuah keunikan yang oleh Dylan Toombs disebut sebagai excellent fusion.

“You will never hear and see what happens here in Indonesia anywhere else.”

Saya menangkapnya sebagai satu hal sederhana namun penting: band di Amerika dan Indonesia memang tumbuh dari akar pembentuk sound yang berbeda.

Di sisi lain, terselip harapan besar dari para juri. Sound dan tema tradisional bukan sekadar identitas, melainkan kekuatan yang bisa membawa band Indonesia berbicara di tingkat dunia. Kesadaran itu mengerucut pada satu garis tebal yang berulang kali disebut: sound production.

Prof. Nipath—guru besar musik di salah satu universitas terkemuka di Thailand—sering merujuk hal ini setiap kali kami berbincang.

“Indonesia is getting better in sound production, but still has room to grow. With the right strategy, I believe Indonesia will make very good progress, sound-production-wise.”

Selama finals, saya berdiri tak jauh dari meja juri. Cukup dekat untuk menangkap potongan-potongan kalimat: tentang intonasi yang nyaris sampai, visual yang berani tapi belum matang, musik yang terasa hidup meski teknisnya belum sepenuhnya rapi. Di sanalah realitas event ini terasa paling manusiawi. Bukan hitam-putih antara menang dan kalah, melainkan proses yang sedang tumbuh—kadang tersandung, tapi terus bergerak.

Ada momen ketika sebuah korps tampil dengan energi mentah—tidak steril, tidak sempurna—namun jujur. Para juri mencatatnya bukan dengan nada menghakimi, melainkan seperti orang-orang yang ingin melihat sesuatu berkembang lebih jauh.

“Ini ada isinya,” terdengar satu komentar lirih. Kalimat sederhana yang terasa lebih berarti daripada angka apa pun di papan skor.

Jakarta Drum Corps International tahun ini menunjukkan satu hal penting: ekosistem drum corps Indonesia sedang berada di persimpangan. Antara mengejar standar global dan merawat identitas lokal. Antara ingin cepat diakui dan perlu sabar membangun fondasi.

Pertarungan itu tampak jelas di lapangan—di setiap langkah yang sedikit terlambat, di setiap chord brass yang hampir menyatu, di setiap ekspresi wajah performer yang menolak menyerah.

Yang menarik, para juri tidak hanya bicara soal kesalahan. Mereka bicara tentang potensi. Tentang arah. Tentang “apa yang bisa jadi” jika waktu, pembinaan, dan keberanian benar-benar diberi ruang.

Mendengar langsung pendapat mereka membuat satu hal terasa jelas: event ini bukan akhir perjalanan, melainkan catatan di tengah bab.

Saat malam benar-benar turun dan arena perlahan lengang, dentum itu tidak hilang. Ia berpindah tempat—ke kepala para performer, ke obrolan para pelatih, ke ingatan penonton yang pulang dengan perasaan campur aduk.

Jakarta Drum Corps International meninggalkan lebih dari sekadar hasil lomba. Ia meninggalkan sebuah pertanyaan: mau dibawa ke mana marching arts kita setelah ini?

Dan mungkin, di situlah nilai sejatinya. Bukan pada skor yang dicetak tebal, melainkan pada suara-suara pelan di balik meja juri—yang mengingatkan bahwa seni, seperti hidup, selalu berada dalam proses menjadi.***

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *