Sebentar…bayangkan ini :
Malam di Rawamangun turun pelan-pelan. Dari jalan raya yang padat, Jakarta International Velodrome kelihatan seperti kapal luar angkasa yang parkir di tengah kota—kubah putih raksasa, lampu-lampu yang membentuk lingkar terang, dan deretan bendera yang berdiri seperti penjaga gerbang. Di dalamnya, bukan suara rantai sepeda yang terdengar duluan, tapi gema snare, teriakan komando, dan brass yang lagi pemanasan. Jakarta belum tidur, tapi malam ini: drum corps yang membangunkan kota.
Dari lintasan kayu ke lingkaran irama
Secara resmi, velodrome ini lahir sebagai rumah balap sepeda. Dibuka pertama kali di era 1970-an dan kemudian direnovasi total untuk Asian Games 2018, bangunan ini punya trek kayu 250 meter rancangan Schuermann Architects, kapasitas sampai sekitar 8.500 penonton kalau dipakai buat konser atau show.
Di siang hari, ia adalah arena olahraga kelas dunia. Tapi begitu lampu-lampu sorot dinyalakan, tribun mulai terisi penonton dengan jaket band, hoodie komunitas, dan tas berisi mallet serta sarung tangan guard, karakter velodrome berubah: lingkar kayu itu jadi panggung raksasa, tempat langkah-langkah terukur menggantikan putaran roda.
Beberapa tahun terakhir, Jakarta International Velodrome memang pelan-pelan beralih fungsi—bukan cuma tuan rumah kejuaraan sepeda seperti UCI Track Nations Cup 2023, tapi juga mulai rutin dipakai untuk event lain: futsal, konser, sampai pertunjukan berskala besar.
Dan 2025 jadi tahun ketika marching arts resmi “mengklaim” lingkar velodrome sebagai rumah kedua mereka.
Agustus: WAMSB mengetuk pintu
Puncak gelombang pertama datang di bulan Agustus. Untuk pertama kalinya, World Association of Marching Show Bands (WAMSB) World Championship 2025 digelar di Indonesia—dan mereka memilih Jakarta International Velodrome sebagai arena utama.
Selama 8–10 Agustus 2025, 36 band dari dalam dan luar negeri berbaris memasuki arena yang biasanya hanya diisi pembalap sepeda.
Lintasan kayu di ujung tribun dipasangi karpet dan garis-garis formasi putih. Pagi sampai malam, stadion itu penuh oleh suara brass yang memecah, woodwind yang mengalun, dan drumline yang menabuh seolah besok kiamat.
Di sinilah kota mulai “terbangunkan” dengan cara yang berbeda.
Biasanya, Rawamangun identik dengan kampus, macet, dan stadion sepak bola. Tiba-tiba ada iring-iringan bus berisi peserta luar negeri, bendera asing berkibar di parkiran, dan penonton lokal yang baru pertama kali melihat marching show dengan level produksi sekelas film festival.
Desember: Jakarta Drum Corps International ambil alih
Kalau Agustus adalah ketukan pintu, maka Desember 2025 adalah saat drum corps resmi mendobraknya.
Jakarta Drum Corps International (Jakarta DCI) 2025 dijadwalkan digelar pada 19–21 Desember 2025, lagi-lagi di Jakarta International Velodrome.
Event ini diselenggarakan oleh Indonesia Drum Corps Association (IDCA), bekerja sama dengan Drum Corps International (DCI)—nama yang, di kalangan marching, statusnya sudah kayak “liga utamanya” drum corps dunia.
Formatnya bukan main-main:
- Drum Corps: World Class, Open Class, Student Class
- SoundSport: format fleksibel untuk unit-unit kreatif yang nggak harus full corps
- Drumline Battle: adu tabuh yang biasanya bikin tribun auto berdiri
- Street Parade: kota ikut digerakkan, bukan cuma venue
- Flag Ensemble: bendera-bendera yang bergerak seperti kalimat puitis dalam udara.
Tagline-nya: “Marching Beyond Borders”—pesan tegas bahwa ini bukan sekadar lomba tahunan, tapi jembatan antara kota, negara, dan generasi.
Di lingkar velodrome, kota bernafas 8 hitungan
Bayangkan malam pertama Jakarta DCI.
Dari luar, kubah velodrome tampak menyala. Di dalam, tribun melingkar penuh penonton yang datang dari berbagai kota—Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, bahkan dari luar negeri. Lingkar arena terasa seperti istana modern: tinggi, dingin, tapi penuh harapan.
Satu corps masuk.
Bass drum disejajarkan di garis start, snare line membentuk barisan, brass berdiri tegak di bawah cahaya putih. Saat announcer menyebut nama mereka, sekejap saja suasana berubah:
Hitungan dimulai:
“Five, six, five-six-seven-eight!”
Brass menghantam chord pertama, guard melempar rifle, dan drumline mulai melukis ritme di udara velodrome. Suara mereka memantul di dinding-dinding beton dan atap logam, membentuk gema yang lebih keras dari lalu lintas Jakarta di luar sana.
Di lingkar velodrome, waktu seakan diukur dengan cara lain. Bukan lagi jam kantor atau jadwal kereta, tapi:
- 8 hitungan untuk berpindah formasi,
- 16 bar untuk build-up emosi,
- 1 impact moment di mana seluruh tribun menahan napas sebelum bertepuk tangan.
Kota yang biasanya dibangunkan oleh klakson dan notifikasi HP, malam itu dibangunkan oleh crescendo brass dan impact chord.
Kenapa penting buat kota ini?
Pertama, Jakarta akhirnya punya venue indoor berstandar dunia yang benar-benar dipakai maksimal oleh komunitas marching arts, bukan cuma atlet sepeda. Kapasitas sampai 8.500 penonton untuk show berarti satu hal: mimpi anak-anak band tentang tampil di “panggung gede beneran” sekarang sangat mungkin kejadian.
Kedua, event seperti WAMSB dan Jakarta DCI bikin Jakarta kelihatan beda di mata dunia. Bukan cuma kota besar yang macet dan padat, tapi hub budaya di mana olahraga, musik, dan seni visual bertemu di satu lingkar arena
Ketiga, buat ribuan pemain muda—brass, battery, pit, guard—lingkar velodrome ini bisa jadi titik balik hidup:
Di sinilah mereka belajar disiplin, kerja bareng, dan tahu rasanya ngasih segalanya dalam 11 menit show. Rasanya nggak jauh beda dari band rock yang akhirnya naik panggung festival besar pertama mereka.
…dan ketika drum corps membangunkan kota
Jakarta International Velodrome dibangun untuk kecepatan, untuk mengejar waktu, untuk lomba di mana siapa paling cepat dialah pemenang.
Tapi di tahun 2025, lingkar velodrome memegang peran lain: ia jadi tempat di mana kota ini diingatkan bahwa ada jenis kebisingan lain yang patut dirayakan—kebisingan yang teratur, penuh latihan, dan lahir dari cinta terhadap musik dan gerak.
Di lingkar velodrome, drum corps membangunkan kota.
Bukan supaya kita panik, tapi supaya kita ingat: di tengah hiruk-pikuk Jakarta, selalu ada sekelompok orang yang rela mengulang satu baris langkah dan satu potong melodi ratusan kali, hanya untuk menciptakan sebelas menit keindahan yang bikin ribuan orang berdiri dan bersorak.***


Leave a Reply