Jakarta Drum Corps International (Jakarta DCI) Desember 2025 di Jakarta International Velodrome bukan cuma soal siapa yang bakal mengisi lapangan, tapi juga siapa yang duduk di tribun juri.
Dan tahun ini, IDCA bareng DCI kayak sengaja mau bikin statement:
“Kalau mau main di level dunia, ya ini standar jurinya.”
Panel jurinya bener-bener all-star cast:
Steve Ulicny, Dylan Toombs, Yoshito Ebisawa, Scott Johnson, Adam Sage, Ron Hardin, Dr. Nipat Kanchanahut, dan Dr. Paopun Amnatham.
Buat peserta, ini bukan sekadar nama—ini adalah kumpulan orang yang secara harfiah udah ikut membentuk cara dunia melihat, mendengar, dan menilai marching arts.
Steve Ulicny – Radar Marching Percussion Global

Steve Ulicny adalah adjudicator aktif di Drum Corps International, Bands of America, dan Winter Guard International, plus sering jadi juri di Jepang, Malaysia, Hong Kong, dan berbagai kompetisi Asia.
Dia ngeliat marching percussion sebagai satu ekosistem besar: battery, pit, sampai cara mereka nyatu dengan ensemble. Bukan sekadar “siapa paling kenceng” tapi:
- Konten kalian make sense atau tidak.
- Balance & clarity kedengeran dari tribun juri atau cuma dari garit depan.
- Groove beneran dorong show atau cuma numpang ribut.
Buat peserta, Steve itu semacam radar global: apakah desain dan eksekusi percussion kalian sudah ngomong dengan bahasa standar dunia, atau masih cuma enak sendiri di rumah.
Dylan Toombs – Mesin Brass Era Baru

Dylan adalah wajah generasi baru brass educator DCI: halus, pintar desain, tapi tetap killer di lapangan. Dia saat ini jadi Brass Coordinator Bluecoats, sebelumnya pegang peran penting di The Cavaliers dan Carolina Crown, dan terlibat dalam beberapa Jim Ott High Brass Awards plus gelar juara dunia DCI.
Apa artinya buat peserta?
- Brass line gak cukup cuma kenceng, harus pinter.
- Intonasi, shaping frasa, sampai cara kalian “bercerita” lewat sound bakal kebaca jelas.
- Desain musik yang “ngerti lapangan” bakal lebih dihargai daripada sekadar susah tapi gak efektif.
Yoshito Ebisawa – Kompas Marching Band Asia

Ebisawa adalah salah satu figur penting di Japan Marching Band Association, aktif sebagai instruktur, adjudicator, dan interpreter buat juri/instruktur asing. Dia punya pengalaman panjang bareng Spirit of Atlanta, Japan Air Self-Defense Force Central Band, hingga memimpin massed bands di event-event nasional Jepang.
Di panel Jakarta DCI, Ebisawa itu:
- Jembatan standar Jepang dan dunia internasional.
- Detail visual–musik yang selama ini cuma dibahas di ruang-ruang klinik kecil, tiba-tiba jadi poin nilai.
- Cara Asia melihat precision, cleanliness, dan etika kerja bakal merekat ke sistem penilaian.
Scott Johnson – Living Legend-nya Marching Percussion

Kalau dunia marching punya “Hall of Fame of Influence”, nama Scott Johnson pasti nongol di halaman pertama. Dia adalah Director of Percussion dan arranger Blue Devils, dengan jejak 14 gelar juara dunia dan segunung penghargaan high percussion caption di DCI.
Keberadaan ScoJo di daftar juri artinya:
- Battery & percussion design kalian lagi diuji sama salah satu arsitek utama marching drumming modern.
- Gak ada tempat bersembunyi buat sound yang kotor, writing yang gak ergonomis, atau konsep yang gak nyambung sama show.
- Buat pemain: ini momen “audisi tak langsung” di depan orang yang selama ini cuma kalian lihat di video atau buku.
Adam Sage – Mata Artistik Color Guard Dunia

Adam Sage adalah koreografer dan desainer yang udah jadi nama besar di color guard dan pageantry arts. Dia pernah jadi caption head & designer color guard Phantom Regiment dan mengantar banyak unit sekolah dan independent ke podium WGI.
Dengan Adam di panel:
- Guard gak bisa diperlakukan sebagai bonus visual.
- Kisah, emosi, dan kualitas movement bakal diukur dengan standar WGI/BOA level atas.
- Desain bendera, sabre, rifle, sampai cara anggota guard “mengambil ruang” di lapangan bakal benar-benar punya bobot nilai.
Ron Hardin – Arsitek Drill & Visual Flow

Ron Hardin adalah drill designer yang sudah mendesain ratusan show untuk band, drumline, guard, dan drum corps di seluruh dunia. Visual-nya tampil di BOA regional finals, juara negara bagian, dan meraih beberapa medali emas WGI.
Apa yang dia bawa ke meja juri?
- Cara kalian bergerak di lapangan bukan sekadar pola, tapi arsitektur.
- Staging, form, sampai transisi akan dilihat apakah benar-benar support musik, bukan cuma “biar rame”.
- Band yang ngerti production value bakal kelihatan beda banget dari yang cuma ngandelin lari-lari cepat.
Dr. Nipat Kanchanahut – Conductor, Scholar, & Global Adjudicator

Dr. Nipat adalah dosen penuh waktu di Department of Western Music, Kasetsart University, dan Conductor in Residence Kasetsart University Wind Symphony. Dia juga sering diundang jadi juri di kompetisi marching dan show band level dunia, termasuk World Music Contest di Kerkrade, Belanda.
Di konteks Jakarta DCI:
- Musikalitas big picture bakal sangat diperhatikan.
- Bukan cuma “main rapi”, tapi apakah konsep musik kalian matang, relevan, dan padu dengan visual.
- Ini juga sinyal kuat kalau Jakarta DCI bukan cuma tentang show spektakuler, tapi juga musicianship serius.
Dr. Paopun Amnatham – Suara Serius dari Dunia Perkusi Konser

Dr. Paopun adalah assistant professor of percussion di Faculty of Music, Silpakorn University, principal timpanist Royal Bangkok Symphony Orchestra, dan Yamaha artist dengan karya-karya perkusi yang sering dibawakan secara internasional.
Di panel ini, dia jadi semacam:
- Penjaga standar tone dan teknik perkusi “klasik” yang dibawa ke konteks marching.
- Balance antara battery, pit, dan ensemble secara keseluruhan bakal dibaca dengan telinga seorang orkestra profesional.
- Buat arranger: ini warning halus supaya writing jangan cuma “efek”, tapi juga fungsional dan musikal.
Kenapa Panel Sekelas Ini Penting Buat Peserta?
Karena dengan line-up begini, Jakarta DCI 2025 bukan lagi sekadar lomba lokal-plus, tapi miniatur panggung dunia.
Beberapa hal yang langsung kerasa buat semua corps:
- Feedback = Kurikulum Gratis
Comment sheet dan recording dari panel ini pada dasarnya adalah masterclass kolektif. Satu siklus musim bisa berubah haluan cuma dari cara kalian mengolah feedback mereka. - Standar Naik Drastis
Gak ada lagi “udah lumayan buat Asia”. Kalian dinilai oleh orang-orang yang sehari-hari hidup di Blue Devils, Bluecoats, WGI, BOA, dan kampus-kampus musik top. - Exposure Internasional
Tampil di depan mereka = membuka peluang koneksi, undangan klinik, bahkan jalan buat pemain/alat/penulis Indonesia tembus jaringan global marching arts. - Legitimasi Buat Jakarta DCI & IDCA
Buat dunia luar, panel ini bilang: “Jakarta serius. Indonesia bukan cuma pasar, tapi kontributor baru di peta marching arts dunia.”
Dengan kata lain, begitu kalian masuk lapangan di Velodrome Desember nanti, kalian bukan cuma tampil di depan penonton Jakarta—
kalian sebenarnya lagi audisi di depan sejarah kecil marching arts Asia.***


Leave a Reply