MOXiE!: Riot Grrrl untuk Generasi Layar Sentuh

IMG

Di antara feed media sosial dan algoritme yang mengekang selera, Moxie (Netflix, 3 Maret 2021) datang seperti selebaran fotokopi yang diselipkan ke loker: sederhana, berisik, dan sengaja menantang status quo. Disutradarai Amy Poehler dari novel YA 2017 karya Jennifer Mathieu, film ini mengikuti Vivian (Hadley Robinson), remaja 16 tahun yang menerbitkan zine anonim untuk membongkar seksisme di sekolahnya—dari “daftar paling bangable” sampai admin sekolah yang pura-pura buta. 

Nada dasar: dari garasi ke ruang guru

MOXiE!—ya, ditulis dengan tanda seru di poster resminya—bekerja karena dua porosnya selaras: dramaturgi coming-of-age yang hangat dan etos riot grrrl yang meledak-ledak. Adaptasi naskah Tamara Chestna dan Dylan Meyer menjaga ritme remaja: persahabatan yang renggang, cinta pertama yang canggung, dan percakapan ruang kelas yang berubah jadi medan debat tentang kekuasaan. Kompas moral film ini jelas, tetapi tidak selalu rapi—dan di ketidakteraturan itulah ia terasa hidup. 

Soundtrack sebagai manifesto

Seperti banyak film remaja besar, Moxie memahami bahwa musik bukan sekadar latar—ia adalah bahan bakar. Lagu-lagu riot grrrl (Bikini Kill, The Julie Ruin) dan kawan-kawan menghantam tepat sasaran; “Rebel Girl” berkumandang bukan hanya sebagai nostalgia ’90-an, melainkan sebagai ajakan bertindak. The Linda Lindas—band punk muda LA—mampir dengan cover “Rebel Girl” dan “Big Mouth” The Muffs; bukan sekadar cameo, tapi semacam stempel keaslian dari skena lintas generasi. Mereka bahkan merilis dua track dari film ini sebagai single. 

Di balik layar, komposer Mac McCaughan (Superchunk) memberi tulang punggung musik orisinal yang mengikat mood pemberontakan kecil-kecilan Vivian cs. 

Politik harian: kecil, tapi berarti

Ketika antagonisnya bukan diktator, melainkan “cowok populer” dan kebijakan sekolah yang timpang, Moxie mengingatkan bahwa aktivisme sering dimulai dari hal-hal remeh yang ternyata tidak remeh. Wacana film ini memantik perdebatan—sebagian pengulas memuji energinya, sebagian lain menganggapnya belum cukup menajamkan sudut-sudut sulit. Itu tercermin di penerimaan kritikus yang “campur namun cenderung positif”. Tapi bahkan para pengulas yang kritis mengakui: film ini menangkap semangat estafet—dari memori Gen X ke amarah artikulatif Gen Z. 

Kenapa 

Moxie

 penting sekarang

Film ini bukan kuliah teori feminisme; ia poster tempel di dinding aula, yang bilang: “Kalau kamu muak, bikin sesuatu—sekecil zine pun bisa.” Ia menyulam solidaritas, kerentanan, dan kegembiraan ke dalam satu montase: rapat klub, coretan spidol, rapuhnya minta maaf ke sahabat, hingga keberanian bicara di depan banyak orang. Dan ya, ia tahu cara merayakan kemenangan kecil tanpa melupakan jalan panjang yang menunggu. 

Catatan akhir (dan sedikit playlist)

Kalau kamu baru kenal riot grrrl, mulai dari: Bikini Kill — “Rebel Girl”; The Julie Ruin — “Just My Kind”; tambah modern: The Linda Lindas — “Big Mouth (Moxie Version)”. Putar keras, lalu baca zine (atau bikin sendiri). Moxie mungkin bukan manifestomu yang sempurna, tapi ia adalah percikan yang menyala di ujung korek—cukup untuk menyalakan sesuatu. 

Rilis & kredit kunci: Netflix, 3 Maret 2021; sutradara Amy Poehler; dibintangi Hadley Robinson, Alycia Pascual-Peña, Lauren Tsai, Nico Hiraga, Patrick Schwarzenegger, dan Poehler; diadaptasi dari novel Jennifer Mathieu.  

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *