
Catatan tentang band indie Indonesia yang memberi warna baru sepanjang 2025 Tidak semua band datang dengan sirene.Sebagian hanya muncul sebagai nama kecil di poster gigs, selipan algoritma di playlist Discover Weekly, atau rekomendasi mulut ke mulut yang terdengar seperti rahasia. Tahun 2025 di musik indie Indonesia diisi oleh nama-nama yang belum tentu viral, tapi terasa…

Di banyak film Indonesia, debt collector biasanya datang sebagai horor ekonomi: jaket kulit, tatapan tajam, ancaman singkat, lalu pintu yang dibanting. Di Panggil Aku Ayah, mereka datang dengan cara yang sama — tapi film ini pelan-pelan merobek stereotip itu dan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan. Disutradarai Benni Setiawan, pemenang Piala Citra yang…

Di Kanagawa, Jepang—di antara ritme kereta yang tak pernah berhenti dan denyut kreatif negeri Sakura—hidup seorang sosok yang nama dan pengaruhnya sudah lama bersirkulasi di dunia marching arts: Yoshito Ebisawa. Buat para pelaku marching band di Asia, nama itu bukan sekadar familiar. Dia lebih seperti kompas—selalu menunjuk ke arah kualitas, disiplin, dan musikalitas yang tajam.…

Di balik banyak brass line paling “ngomong” di lapangan hari ini, ada satu nama yang pelan tapi pasti mulai sering muncul di balik layar: Dylan Toombs. Dia bukan tipe orang yang ngejar spotlight, tapi kalau lo ikutin jejak karya dan desainnya, lo bakal sadar satu hal — suara yang lo dengar itu nggak kebetulan. Itu…

Di balik set timpani yang berkilau dan dentum marimba yang memecah keheningan panggung, berdiri satu nama yang selama lebih dari dua dekade telah menjadi poros dunia perkusi Thailand: Asst. Prof. Dr. Paopun Amnatham. Dengan rekam jejak yang bisa membuat siapa pun menelan ludah, Paopun bukan hanya seorang akademisi atau performer—dia adalah kekuatan kreatif yang merobek…

Di dunia wind band dan marching show, nama Dr. Nipat Kanchanahud, D.M.A. sudah lama lewat dari sekadar “konduktor hebat”. Dia adalah kombinasi langka: akademisi, konduktor, drill designer, juri internasional, produser rekaman, dan duta tak resmi untuk “angin” dari Thailand ke seluruh dunia. Saat ini, Nipat adalah full-time faculty di Department of Western Music, Faculty of…

Di dunia marching percussion, ada nama yang nggak perlu diperkenalkan lagi. Begitu lo bilang “Scott Johnson”, yang kebayang langsung: Blue Devils, snare line super rapih, sound tebal, dan standar yang bikin generasi pemain merasa harus latihan dua kali lebih keras. Dan di tahun ke-46 bareng Blue Devils Drum & Bugle Corps, Scott bukan hanya legenda—dia…

Di tengah hiruk-pikuk Tokyo yang serba cepat, ada satu sosok yang gerakannya justru paling presisi: hentakan stick di pad, pola ritmik di kepala, dan visi besar tentang bagaimana marching arts bisa menyatukan budaya. Namanya Steve Ulicny — dan selama bertahun-tahun, hidupnya berputar di orbit satu hal: membuat dunia marching jadi lebih besar, lebih berani, dan…

Di dunia drum corps, nama Ron Hardin bukan sekadar tercetak di buku program—dia adalah buku panduan bagaimana sebuah pertunjukan bisa terlihat megah, rapi, dan tetap bikin jantung penonton berdegup. Tahun 2025, Jakarta DCI kedatangan salah satu “otak visual” paling berpengaruh di era modern drum corps. Dari lapangan-lapangan legendaris di Amerika Serikat hingga arena-arena dunia, jejak…

Di tahun ketika Jakarta DCI 2025 resmi mengibarkan bendera internasionalnya lebih tinggi dari sebelumnya, satu nama langsung mencuri perhatian di daftar juri: Adam Sage. Buat para pelaku dan penikmat pageantry arts, kehadiran Sage di jajaran tim penilai bukan sekadar formalitas; ini semacam stempel resmi bahwa panggung Indonesia sudah masuk radar dunia—dan bukan lagi sekadar catatan…