Agustus 2015. summer yang panas di Lucas Oil Stadium, Indianapolis, Indiana, Amerika Serikat. Ya, saya sedang berada di sana untuk meliput kiprah unit drum corps dari Provinsi Banten, Gita Surosowan Banten, berkompetisi pada event marching band,-yang menurut pendapat saya adalah,- yang terbesar dan terbaik di dunia: Drum Corps International (DCI).
Sungguh minggu yang sibuk, sekaligus membanggakan. Gita Surosowan Banten akan tercatat sebagai unit drum corps pertama dari Indonesia yang berkompetisi di sini: di pusat jagad marching band dunia. Segala kelelahan dan kerepotan perjalanan dari Kota Serang ke Indianapolis seperti menguap begitu saja. Berganti dengan semangat eksplorasi hal-hal baru.
Nah, Lucas Oil Stadium ternyata jauh melampaui imajinasi. Rumah bagi Indianapolis Colts itu tidak sekadar besar; ia terasa kolosal. Dari kursi penonton paling atas, lapangan tampak seperti panggung mini yang dibingkai dinding baja dan kaca raksasa.
Sehari sebelumnya saya menyaksikan babak semifinal dari ketinggian itu. Detail gerak para pemain memang banyak yang hilang, tetapi justru dari sana saya mulai memahami skala pertunjukan ini. Drum corps bukan sekadar soal formasi di lapangan. Ia adalah pengalaman yang sengaja dirancang untuk membuat penonton merasa kecil.
Dalam pertandingan NFL, stadion ini mampu menampung sekitar 67.000 penonton. Saat menjadi tuan rumah Final Four NCAA, kapasitasnya bahkan menyentuh 70.000 kursi. Untuk DCI Finals, hanya sekitar setengah stadion yang digunakan. Tetap saja, puluhan ribu orang datang untuk menyaksikan musik, koreografi, dan pertunjukan yang berlangsung hanya belasan menit. Sulit membayangkan ada kompetisi marching band lain di dunia yang mampu menarik massa sebesar ini.
Di balik dentuman brass, derap kaki yang presisi, dan tepuk tangan puluhan ribu penonton, Drum Corps International sesungguhnya menggerakkan sebuah mesin ekonomi yang bekerja nyaris tanpa henti. Finals Week bukan sekadar panggung untuk menentukan siapa yang mengangkat trofi juara, melainkan titik temu antara seni pertunjukan, olahraga, industri hiburan, dan pariwisata dalam satu ekosistem yang saling menopang.
Ya, DCI memang segede itu industrinya.
Namun, kesadaran itu tidak datang dalam lima menit pertama saya memasuki Lucas Oil Stadium. Ia tumbuh perlahan, seiring saya menghabiskan hari-hari selama Finals Week. Semakin lama berada di sana, semakin saya menyadari bahwa yang sedang berlangsung bukan sekadar kompetisi untuk mencari juara dunia drum corps.
Setiap pagi kawasan di sekitar stadion sudah hidup. Hotel-hotel dipenuhi calon penonton, rumah dan sekolah di pinggiran kota menjadi lokasi latihan peserta. Restoran menjadi tempat sarapan para peserta, pelatih, hingga keluarga yang datang dari berbagai penjuru Amerika Serikat.
Di area stadion, stan-stan merchandise mulai dipadati pengunjung bahkan sebelum pintu tribun dibuka. Jersey, kaus, topi, rekaman pertunjukan, poster, hingga berbagai cendera mata berpindah tangan tanpa henti. Orang-orang rela mengantre panjang hanya untuk mendapatkan merchandise resmi dari DCI dan korps favorit mereka.
Ketika malam tiba dan lampu stadion menyala, puluhan ribu penonton mulai memenuhi tribun Lucas Oil Stadium. Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan pertandingan, melainkan menjadi bagian dari sebuah tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Di luar arena, bisnis lokal menikmati berkah yang sama. Hotel, restoran, transportasi, hingga toko-toko ritel ikut bergerak mengikuti ritme Finals Week. Indianapolis seperti berubah menjadi kota yang seluruh denyutnya mengikuti irama snare drum dan dentuman brass.
Barulah saya memahami mengapa Pemerintah Kota Indianapolis begitu serius mempertahankan DCI Finals tetap berlangsung di kota mereka. Perhelatan yang dikelola oleh organisasi nirlaba ini ternyata menghasilkan dampak ekonomi sekitar 16 juta dolar Amerika Serikat setiap tahun. Angka itu saya kutip dari media setempat, IndyStar. Setiap Finals Week, puluhan ribu penonton, peserta, staf, sukarelawan, dan anggota keluarga datang dari berbagai daerah, menciptakan siklus ekonomi yang menghidupi banyak sektor sekaligus.
Di balik pertunjukan berdurasi sekitar dua belas menit yang disaksikan penonton di dalam stadion, terdapat mesin bisnis yang bekerja nyaris tanpa jeda. Penjualan tiket, hak siar dan layanan streaming, sponsor korporasi, hingga marketplace resmi DCI menjadi sumber pendapatan utama organisasi.
Pada saat yang sama, korps-korps peserta juga menerima performance fee serta royalti dari penjualan rekaman pertunjukan mereka. Di sinilah saya akhirnya memahami bahwa DCI telah melampaui definisi sebuah kompetisi marching band. Ia adalah sebuah industri hiburan yang dibangun dengan disiplin, tradisi, dan model bisnis yang membuatnya terus bertahan selama lebih dari setengah abad.
Sekali lagi, DCI mengorganisir event dengan valuasi jutaan dollar membutuhkan mesin yang logis, bukan bertumpu pada perasaan orang per orang saja….
***
Siang ini, saya tengah browsing stan-stan di selasar dalam Lucas Oil Stadium. Ramai sekali seperti pasar kaget. Saya lihat stan unit-unit terkenal macam Bluecoats, Blue Devils, Carolina Crown, Cavaliers, Mandarins, jualannya ya rata-rata T-shirt dan aksesori seperti gelang dan lanyard. Ada juga saya lihat stan dari brand alat musik. Rupanya tidak hanya meng-endorse unit drum corps tier atas saja, brand alat musik juga menempatkan stan dan menjual barang-barang fast moving mereka.
Nah, selain stan unit dan brand, saya melihat ada sejumlah stan kecil yang sepertinya indie saja, menjual T-shirt bertema drum corps. Sebelumnya saya sudah beli kaos korps favorit Phantom Regiment. Juga kaos Bluecoats dan Blue Devils supaya tidak ketinggalan tren saja.
Saya tertegun di salah satu stan indie karena desain T-shirt yang sangat keren sekali. Setidaknya buat saya. Itu bergambar kepala Nietzsche memakai topi drum corps. Di atasnya ada tulisan:
- Drum Corps is a Nietzsche’s Game –
Keren kan? Nietzsche bukan tokoh drum corps, bahkan musik sekalipun. Nama lengkapnya adalah Friedrich Wilhelm Nietzsche yang pada usia 24 tahun, di tahun 1869, sudah ditunjuk jadi Professor of Classical Philology di Universitas Basel, Jerman. Tapi Nietzsche dipelajari di mata kuliah filsafat karena sejumlah pemikirannya tentang eksistensialisme. Filsuf dan penulis ini meninggal pada tahun 1900.
Yang menarik kemudian adalah percakapan yang terjadi antara saya dan penjual kaos tersebut. Sebentar saya deskripsikan sosoknya: bayangkan Anda berhadapan dengan pria Kaukasia yang tinggi menjulang sekaligus besar. Walaupun tersenyum, berewok pirangnya tetap membuat saya menahan diri untuk bercanda dengannya. Tapi, sorot mata birunya yang tajam, memancarkan sinar persahabatan memberi saya sinyal bahwa dia pribadi yang baik dan siap membantu.
Outfitnya seperti bikers Amerika yang sedang istirahat jauh dari sepeda motornya. Usia, saya perkirakan di atas 40.
Saya tanya ke dia berapa harga kaus tersebut. Responsnya yang menurut saya agak mengagetkan. “You like this shirt. Why?” tanyanya. “I know Nietzsche,” jawab saya. Masih belum membanderol harga kaosnya, pria itu malah memberi saya pertanyaan lagi. “Do you know why drum corps is a Nietzsche’s game?” Saya hanya bisa menggelengkan kepala.
Jujur, saya tidak siap dan tidak punya jawaban untuk pertanyaan sefilosofis itu. Namun dengan cepat, ia menjelaskan dengan kalimat-kalimat pendek. Saya masih ingat secara verbatim karena saya simpan pada catatan laporan jurnalistik saya. “It’s all about the ratio. Only one in fifteen people has even heard of Nietzsche. Drum corps exists in much the same way,” katanya.
Tanpa sadar saya tepuk tangan. Kagum, walau secara akademis, statistik dia masih butuh pembuktian ilmiah. Tapi itu semua menjadi tidak penting karena saya merasa tercerahkan. Pertanyaan besar saya tentang bagaimana menjelaskan fenomena drum corps di Amerika dan bagaimana pengaruhnya mencapai seluruh penjuru bumi, terjelaskan dengan satu kalimat itu.
Ya, karena pada akhirnya, ini hanya soal rasio.
Mungkin hanya satu dari lima belas orang yang tahu siapa Nietzsche. Bukan karena ia tidak penting, tetapi karena gagasannya menuntut kesediaan untuk berpikir lebih dalam daripada kebanyakan orang ingin melakukannya. Nietzsche tidak pernah menjadi bacaan massal. Ia hidup di ruang-ruang kecil: di perpustakaan, ruang kuliah, atau di kepala orang-orang yang rela menghabiskan waktu untuk mempertanyakan ulang nilai-nilai yang selama ini dianggap mapan.
Drum corps hidup dengan cara yang hampir sama.
Di luar Amerika Serikat, bahkan di banyak kota di Amerika sendiri, sebagian besar orang tidak tahu apa itu drum corps. Mereka mungkin pernah melihat marching band di pertandingan football, tetapi tidak pernah membayangkan bahwa ada dunia lain yang mendorong seni itu sampai ke batas paling ekstrem. Dunia di mana sebelas menit pertunjukan lahir dari puluhan ribu jam latihan, ratusan orang yang bekerja di belakang layar, dan investasi yang nilainya mencapai jutaan dolar.
Ini bukan soal siapa yang lebih hebat. Ini soal siapa yang bersedia masuk lebih dalam.
Semakin kompleks sebuah dunia, semakin kecil pula komunitas yang benar-benar memahaminya. Sama seperti tidak semua orang membaca Nietzsche, tidak semua orang mampu menikmati drum corps. Bagi penonton awam, pertunjukan itu mungkin hanya terlihat seperti marching band yang sangat rapi. Namun bagi mereka yang memahami bahasa visual, desain pertunjukan, kualitas bunyi, komposisi musik, hingga filosofi artistiknya, sebelas menit itu adalah karya yang disusun dengan presisi luar biasa.
Ada paradoks yang menarik di sana. Sesuatu yang nyaris tidak dikenal oleh mayoritas orang justru mampu melahirkan tingkat dedikasi yang hampir sulit dipercaya. Orang-orang rela menghabiskan satu musim panas penuh, berpindah dari satu negara bagian ke negara bagian lain, tidur di lantai gedung olahraga sekolah, berlatih di bawah matahari yang menyengat, hanya demi mengejar kesempurnaan dalam pertunjukan yang bahkan belum tentu dipahami oleh sebagian besar penontonnya.
Mungkin memang seperti itulah dunia-dunia besar bekerja. Mereka tidak pernah dibangun untuk semua orang. Mereka dibangun oleh sedikit orang yang percaya bahwa ada sesuatu yang layak diperjuangkan, bahkan ketika dunia di luar hampir tidak menyadarinya.
Itulah sebabnya saya merasa segalanya menjadi masuk akal saat “drum corps adalah a Nietzsche’s game“. Bukan karena Nietzsche pernah menulis tentang marching band. Bukan pula karena setiap pemain drum corps membaca filsafat. Melainkan karena keduanya berbagi satu sifat yang sama: mereka tidak menawarkan kenyamanan, tetapi kedalaman. Mereka tidak mengejar popularitas, tetapi pencarian akan standar yang terus bergerak menjauh setiap kali kita merasa telah mencapainya.
Dan mungkin justru di situlah letak keindahannya.
Tidak semua orang harus mengerti drum corps. Sama seperti tidak semua orang harus membaca Nietzsche. Tetapi bagi mereka yang akhirnya masuk ke dalam dunia itu, hidup tidak pernah lagi terlihat dengan cara yang sama.
⸻
Kembali ke stan di mana penjual T-shirt sekaligus filsuf ini berada, saya menanyakan lagi harga kaos tersebut. “I normally sell it for $20, but since you’re one of the one in fifteen people who actually knows Nietzsche, you get the philosopher’s discount—$15,” jawabnya.
(Bersambung)


Leave a Reply