“Panggil Aku Ayah”: Ketika Debt Collector Jadi Keluarga

Panggil Aku Ayah

Di banyak film Indonesia, debt collector biasanya datang sebagai horor ekonomi: jaket kulit, tatapan tajam, ancaman singkat, lalu pintu yang dibanting. Di Panggil Aku Ayah, mereka datang dengan cara yang sama — tapi film ini pelan-pelan merobek stereotip itu dan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan.

Disutradarai Benni Setiawan, pemenang Piala Citra yang sudah malang-melintang di wilayah drama keluarga, film ini dirilis di bioskop pada 7 Agustus 2025 dan kini mampir ke ruang tamu lewat Netflix. Di atas kertas ia “cuma” adaptasi resmi dari film Korea Pawn (2020), kolaborasi antara Visinema Studios dan raksasa hiburan Korea CJ ENM.
Di layar, ia berubah jadi sesuatu yang sangat akrab: potret keluarga Indonesia yang retak, miskin, tapi keras kepala menolak putus asa.


Dari Utang ke Ikatan: Premis yang Terasa Terlalu Dekat

Cerita bergerak dari sosok Dedi (Ringgo Agus Rahman) dan Tatang (Boris Bokir), dua sepupu yang kerjaannya mengejar orang-orang yang hidupnya selalu telat beberapa cicilan. Mereka bukan malaikat — kerjaan mereka memang menagih dan menekan. Sampai suatu hari mereka mengetuk pintu rumah Rossa (Sita Nursanti), seorang ibu tunggal dengan hidup yang sudah lama digilas keadaan, dan seorang anak perempuan bernama Intan (Myesha Lin) yang menjadi satu-satunya harta benar-benar berharga.

Saat Rossa kehabisan opsi, sebuah ide yang terdengar kejam meluncur begitu saja: Intan dijadikan jaminan utang. Di titik ini, film seperti menodong penonton dengan pertanyaan yang nggak enak: berapa harga seorang anak di dunia yang diatur utang dan kontrak?

Tapi setelah adegan itu, film mulai berbelok. Dedi dan Tatang yang awalnya cuma melihat Intan sebagai “aset” mendadak dipaksa hidup dengan bocah yang cerewet, polos, kadang bikin repot, dan pelan-pelan menempel di hati. Dari sini, Panggil Aku Ayah bergerak ke wilayah yang jauh lebih kompleks: bagaimana kalau orang-orang yang seharusnya jadi ancaman, justru berubah menjadi keluarga paling tulus?


Benni Setiawan Main di Wilayah Baru, Tanpa Kehilangan Jiwa

Buat Benni Setiawan, ini adalah pertama kalinya ia menggarap drama komedi keluarga secara terang-terangan, setelah sebelumnya dikenal lewat drama yang cenderung lurus, sentimental, dan penuh air mata.

Tapi di sini, Benni nggak sekadar ganti genre. Ia memperlakukan komedi seperti bumbu, bukan tujuan. Humor muncul dari gesekan karakter — cara Dedi dan Tatang ngobrol seperti dua sepupu yang terlalu sering nongkrong di warung kopi, cara Intan menyela dengan logika kekanak-kanakan yang justru lebih waras dari orang dewasa.

Adaptasi dari Pawn terasa hormat tapi tidak takut nakal. Konflik besar, alur utama, dan emosi dasar tetap setia pada versi Korea yang sukses menembus 1,7 juta penonton di tengah pandemi.
Yang diganti adalah tekstur: bahasa, gesture, dinamika ekonomi kelas pekerja Indonesia, sampai detail kecil seperti ruang keluarga sempit dengan kalender murahan dan teko teh yang tak pernah kosong. Di titik ini, film tidak lagi sekadar “mengindonesiakan” Pawn, tapi benar-benar men-jejak-kan kakinya di tanah sini.


Ringgo, Boris, dan Myesha: Trio Tak Lazim yang Bikin Hati Luluh

Sebagai Dedi, Ringgo Agus Rahman memerankan sesuatu yang selama ini pelan-pelan ia bangun di film-film sebelumnya: cowok biasa yang sok cuek, humoris, tapi diam-diam hancur di dalam. Kali ini, semua lapisan itu dipaksa keluar lewat relasi dengan Intan — dari yang awalnya malas mengurus anak, sampai di titik di mana satu kata “ayah” bisa membuatnya diam seribu bahasa.

Boris Bokir jadi partner in crime yang pas: keras kepala, blak-blakan, tapi jadi sumber banyak momen komedi yang bikin film ini nggak terjebak jadi melodrama murahan. Keduanya memikul beban cukup berat: mereka harus tetap terlihat seperti debt collector yang punya sisi gelap, tapi juga cukup hangat sehingga penonton mau memaafkan dosa-dosa awal mereka.

Lalu ada Myesha Lin sebagai Intan. Banyak film keluarga tumbang karena gagal menemukan aktor anak yang bisa menahan kamera. Di sini, Intan tidak hanya jadi korban keadaan, tapi juga motor emosi yang nggak pernah berhenti. Kalau Ringgo dan Boris adalah beat drum yang ritmis, Myesha adalah melodi yang kadang manis, kadang sumbang, tapi selalu bikin kepala ikut mengangguk.

Di sekitar mereka, Tissa Biani, Sita Nursanti, dan deretan pemain pendukung muncul sebagai orbit yang memperkuat tema besar: bahwa keluarga itu bisa hadir dalam bentuk yang tidak ideal, tidak lengkap, bahkan kadang salah arah — tapi tetap punya peluang untuk diperbaiki.


Utang, Kelas Sosial, dan Trauma yang Tak Pernah Benar-Benar Lunas

Di balik kehangatan, Panggil Aku Ayah juga adalah film tentang utang — bukan cuma angka di kuitansi, tapi juga hutang emosional antar generasi. Utang orang tua ke anak yang tak pernah diminta lahir. Utang negara ke warganya yang dipaksa survive sendiri. Utang orang dewasa yang baru sadar: mereka selama ini ikut melanggengkan kekerasan struktural.

Ketika Rossa terpaksa menitipkan anaknya sebagai jaminan, film seolah bilang: “ini bukan pilihan gila, ini pilihan terakhir.” Di banyak keluarga Indonesia, menjadi pekerja migran, meninggalkan anak, atau mengambil utang berbunga tinggi adalah konsekuensi dari sistem, bukan sekadar “kurang bersyukur”.

Di sisi lain, film juga menantang cara kita melihat debt collector. Di berita, mereka sering datang sebagai angka statistik: kasus kekerasan penagihan utang, intimidasi, atau video viral di media sosial. Di sini, Dedi dan Tatang diberikan latar kemanusiaan: mereka pun cuma roda kecil di mesin yang jauh lebih besar.

Film tidak mengglorifikasi mereka, tapi juga tidak menghakimi secara hitam-putih. Ini jarang kita lihat di film arus utama, dan justru di situlah relevansi Panggil Aku Ayah terasa menggigit.


Adaptasi Lintas Negara, Tapi Tetap Terasa Warung Pinggir Jalan

Kolaborasi Visinema Studios dengan CJ ENM bukan cuma soal logo dua perusahaan di awal film. Ia simbol dari sesuatu yang sudah lama terjadi: budaya pop Asia saling menyilang, saling menyontek yang baik-baik, dan belajar menyisipkan lokalitas tanpa minder.

Pawn mungkin lahir dari realitas Korea, tapi cerita tentang anak yang “digadaikan” ke tangan orang asing bisa terjadi di banyak tempat — dari Gwangju sampai Bekasi. Versi Indonesia ini menambahkan detail seperti lingkungan urban yang kita kenal, bahasa tubuh khas orang sini, sampai cara orang bercanda saat lagi susah: sarkas, tapi tetap nyari cara buat ketawa.

Soundtrack seperti “Tegar” yang dibawakan ulang oleh Sita Nursanti dan Tissa Biani jadi jembatan nostalgia. Lagu yang pernah jadi anthem patah hati generasi tertentu ini dipinjam, dipelintir konteksnya, dan dijadikan penegas bahwa “tegar” di film ini bukan berarti tidak menangis — justru sebaliknya, berani menangis di depan orang yang kamu anggap keluarga.


Menyasar Ayah, Menyentuh Semua Orang

Satu hal yang konsisten di materi promosi dan ulasan media: Panggil Aku Ayah adalah film tentang ayah, tapi bukan hanya untuk para ayah. Banyak kampanye seputar film ini menyinggung soal peran ayah di rumah, kehadiran figur laki-laki yang emosionalnya hadir, bukan sekadar finansial.

Namun di luar framing marketing, yang sebenarnya ditawarkan film ini adalah sesuatu yang lebih universal:

  • Bagaimana orang yang tidak pernah belajar menjadi orang tua, dipaksa belajar tanpa buku manual.
  • Bagaimana anak-anak bisa memaafkan, tanpa harus melupakan apa yang mereka alami.
  • Dan bagaimana keluarga kadang lahir dari kecelakaan takdir — dua debt collector yang kebetulan mengetuk pintu yang salah, di hari yang salah, tapi berakhir membawa hidup baru untuk semua orang yang terlibat.

Di Era Superhero dan Franchise, Film Kecil yang Meminta Kita Duduk dan Mendengar

Di tahun ketika layar-layar bioskop dijejali sekuel, spin-off, dan film dengan poster penuh CGI, Panggil Aku Ayah datang dengan bahasa visual yang lebih sederhana: ruang tamu sempit, gang kecil, mobil penagih utang yang bukan mobil mewah, dan raut lelah yang tidak perlu efek khusus untuk terasa berat.

Ini bukan film yang revolusioner secara bentuk, tapi ia radikal dalam hal lain: keberanian untuk percaya bahwa penonton masih mau duduk 2 jam, menonton orang-orang biasa, dan peduli pada nasib mereka.

Dan mungkin, di akhir kredit, ketika kata “ayah” sudah diucapkan dengan cara-cara yang berbeda — marah, rindu, pasrah, bercanda — film ini meninggalkan sesuatu yang pelan tapi lengket:

Pertanyaan sederhana yang bergema jauh setelah layar gelap:
siapa saja yang sebenarnya sudah berperan seperti ayah dalam hidupmu, meski kalian tak pernah punya hubungan darah — dan kapan terakhir kali kamu memanggil mereka?***

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *